News & Update

Dampak Pencemaran Udara

5 Dampak Pencemaran Udara bagi Manusia dan Lingkungan

Penyelesaian dari masalah pencemaran udara memerlukan usaha bersama antara Pemerintah, Industri, dan Masyarakat. Karena dampak pencemaran udara akan mengganggu Kesehatan manusia dan hewan, serta masalah pada tumbuhan. Setiap tahun polusi udara bertanggungjawab atas kematian 7 juta manusia di seluruh dunia. Ada banyak dampak yang ditimbulkan dari pencemaran udara.

Pencemaran udara banyak muncul di kota-kota besar, dimana emisi dari berbagai sumber terkonsentrasi. Polusi udara menjadi kontributor dalam perubahan iklim. Pencemaran yang ditimbulkan dari karbon dioksida dan gas metana meningkatkan suhu bumi.

Dampak Pencemaran Udara

Ada banyak dampak yang ditimbulkan dari polusi udara. Sehingga hal ini perlu dijaga oleh industri dan pihak-pihak lain untuk menjaga kondisi udara agar terhindar dari polusi yang membahayakan lingkungan.

Kesehatan Manusia

Efek pertama yang paling penting dari pencemaran udara adalah Kesehatan manusia itu sendiri. Salah satu penyakit yang muncul akibat permasalahan udara adalah penyakit paru-paru dan pernafasan lainnya.

Di Amerika Serikat sekitar 40 ribu orang Meninggal akibat dari pencemaran udara yang terjadi di Negara tersebut. Sedangkan, salah satu Negara Asia yang memiliki Penduduk terpadat, India bertanggung jawab atas 500 ribu kematian setiap tahunnya. Kematian tersebut, disebabkan oleh partikel yang dihirup manusia.

Efek pada tubuh manusia berdasarkan dengan durasi paparan dan jenis konsentrasi partikel atau bahan kimia. Masalah Kesehatan yang ditimbulkan seperti pneumonia dan bronkitis. Efek pada jangka Panjang gangguan pernapasan kronis, penyakit jantung, kanker paru-paru, bahkan kerusakan serius pada hati, ginjal, saraf, dan otak.

Polutan di udara juga berdampak pada paru-paru anak yang sedang tumbuh serta dapat memperparah kondisi bagi orang lanjut usia.

Baca Juga: Emisi Debu Jatuh di Jakarta Semakin Mengkhawatirkan, Salah Siapa?

Eutrofikasi

Eutrofikasi adalah kondisi air seperti danau, sungai, dan laut mendapatkan pengayaan nutrisi dan bahan organik karena bersumber dari nitrat dan fosfor. Akibatnya, mendorong pertumbuhan tanaman dan alga yang cukup padat.

Sumber penyebab eutrofikasi ini adalah hujan. Hujan membawa senyawa kimia akibat dari pencemaran udara ke dalam air. Sehingga senyawa tersebut mengendap dan menyebabkan pertambahan nutrisi di dalam air.

Akibatnya, bahan organik yang tersedia menghabiskan lebih banyak oksigen di dalam air yang menyebabkan kematian kehidupan hewan dalam air.

Hujan Asam

Hujan asam merupakan hujan yang turun dengan pH air rendah dan memiliki sifat asam. Penyebab munculnya hujan asam adalah polusi udara dari kegiatan industri, kendaraan bermotor, dan pembangkit listrik. Dampak dari hujan asam, benda yang terkena akan mengalami pengikisan akibat korosi.

Mengutip dari National Geographic, Hujan asam yang turun membawa senyawa sulfur dioksida dan nitrogen dioksida yang membuat air hujan memiliki pH rendah.

Ketika hujan asam ini mengendap di suatu wilayah, maka menyebabkan kerusakan lingkungan yang serius dan juga membunuh kehidupan di dalam air, hewan, pohon, dan tanaman. Selain itu, hasil hujan asam juga menimbulkan berbagai penyakit bagi manusia.

Ozon Permukaan Tanah

Ozon Permukaan Tanah adalah ozon yang melapisi bagian atas atmosfer. Jenis ozon ini bukanlah ozon yang baik untuk bumi. Ozon jenis ini diciptakan dari reaksi kimia Nitrogen Oksida (NOx) dan senyawa volatile organic (VOC).

Ketika ozon ini bereaksi dengan sinar matahari, akhirnya menciptakan ozon permukaan tanah. Sumber dari ozon permukaan tanah adalah :

  • Emisi kendaraan bermotor
  • Pembangkit Listrik
  • Sumber pembakaran
  • Emisi industri
  • Pabrik Kimia
  • Asap tembakau
  • Kebakaran hutan

Ozon di permukaan tanah ini menjadi penyebab perubahan iklim dan pemanasan global. Menghirup ozon ini menyebabkan gangguan pada Kesehatan, terutama anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru-paru, bronkitis kronis, dan asma.

Efek Lainnya

Dampak pencemaran udara bagi lingkungan

Source: Nrdc.org

Dampak pencemaran udara selain mengganggu Kesehatan manusia dan hewan serta merusak lingkungan dan tumbuh-tumbuhan, pencemaran udara akan mempengaruhi lingkungan. Salah satunya adalah menghitamnya bangunan di kota-kota besar, meskipun kota tersebut jauh dari pusat emisi industri dan pembangkit.

Menghitamnya bangunan, juga disebabkan oleh emisi pada knalpot mobil, bus, dan kereta api. Biasanya diperlukan pengecatan ulang dari waktu ke waktu, dan cat tersebut menghasilkan emisi kimia. Knalpot kendaraan juga menjadi penyumbang hujan asam yang membuat pelapukan bangunan, korosi logam, dan pengelupasan cat pada permukaan.

Bagaimana Mengurangi Dampak Pencemaran Udara

Mengurangi dampak pencemaran udara bisa dilakukan dengan solusi jangka Panjang maupun jangka pendek. Tetapi pada dasarnya, untuk mengurangi pencemaran lingkungan perlu adopsi teknologi-teknologi ramah lingkungan.

Selain itu, perlu adanya regulasi yang akan membantu industri atau pemilik kendaraan bermotor melakukan pengujian mengenai emisi yang dikeluarkan.

Bagaimana proses pengujian? Untuk pengujian industri, Anda perlu melakukan uji Analisa baku mutu sumber tidak bergerak atau bergerak untuk memastikan bahwa emisi yang dikeluarkan benar-benar aman terhadap lingkungan.

Untuk melakukan uji Analisa, Anda bisa melakukannya dengan menggandeng Laboratorium Lingkungan seperti PT Advance Analytics Asia (A3) Laboratories yang sudah mendapatkan sertifikat akreditasi untuk melakukan pengujian emisi industri. Dapatkan penawaran khusus uji dan Analisa baku mutu industri setelah membaca artikel ini.

8 Bentuk-Bentuk Pencemaran Lingkungan

Pencemaran Lingkungan semakin meningkat secara bertahap dan menimbulkan dampak serius terhadap makhluk hidup termasuk manusia. Meskipun pencemaran lingkungan disebabkan oleh kegiatan yang dilakukan oleh manusia seperti urbanisasi, industrialisasi, pertambangan, dan eksplorasi. Baik negara maju maupun berkembang bertanggung jawab atas pencemaran lingkungan. Terdapat banyak bentuk polusi dari aktivitas manusia. Mari kita lihat apa saja bentuk-bentuk pencemaran lingkungan.

Pencemaran lingkungan menjadi isu dan tantangan bagi setiap negara yang cukup serius. Meskipun dampak yang dirasakan dari pencemaran bisa terjadi secara langsung maupun tidak langsung, tetapi dalam jangka panjang akan berbahaya bagi kesehatan manusia.

Pengertian Pencemaran Lingkungan

Pencemaran lingkungan adalah adanya bahan yang tidak diinginkan oleh lingkungan yang terkontaminasi dari zat berbahaya sebagai akibat dari kegiatan manusia. Masuknya bahan yang merusak dan beracun ke dalam lingkungan alam, dapat merusak alam.

Lingkungan yang tercemar dapat terjadi pada air, udara, dan tanah. Selain itu, munculnya zat cair, padat, dan gas pada lingkungan akan merubah kondisi lingkungan tersebut, baik itu Sebagian maupun secara keseluruhan.

Baca Juga: Ciri Ciri Air Mengandung Limbah, Nomor 5 Bikin Ngeri

Bentuk-Bentuk Pencemaran

Ada cukup banyak bentuk pencemaran lingkungan yang terjadi di sekitar kita. Apa saja itu?

1. Udara

Bentuk pencemaran lingkungan pada udara

Source: NRDC.org

Pencemaran udara menjadi salah satu bentuk kontaminasi lingkungan karena masuknya zat berbahaya ke udara. Polusi udara membuat udara kotor dan tercemar. Polusi pada udara terjadi ketika zat berbahaya, berbau, debu, dan asap dilepaskan ke udara pada tingkat yang cukup membahayakan bagi kesehatan makhluk hidup dan dapat merusak tanaman.

Adapun contoh zat yang mencemarkan udara antara lain hidrokarbon, senyawa organik, karbon monoksida, partikel debu, sulfur oksida, dan nitrogen oksida.

Pencemaran udara bisa terjadi akibat dari kegiatan manusia, seperti kendaraan bahan bakar fosil, asap pabrik, debu dari industri semen, industri baja dan alumunium, limbah plastik, memurnikan minyak bumi, memproduksi logam seperti baja dan alumunium.

Terjadinya pencemaran udara bisa juga disebabkan oleh kondisi alam, seperti kebakaran hutan dan meletusnya gunung api.

2. Lahan

Sejak munculnya industrialisasi aktivitas manusia secara bertahap menghancurkan tanah, menimbulkan berbagai penyakit pada manusia dan makhluk hidup lainnya. Pencemaran pada lahan adanya kerusakan atau turunnya kualitas permukaan lahan bumi dalam hal penggunaan, lanskap, dan kemampuan untuk mendukung kehidupan disekitarnya.

Pencemaran pada tanah sering terjadi akibat dari limbah dan sampah yang tidak dibuang dengan cara yang benar, sehingga menimbulkan racun dan bahan kimia ke tanah. Termasuk didalamnya pada kegiatan pertanian, ketika banyak Petani menggunakan Pupuk, Pestisida, dan bentuk produk sampingan lainnya.

Eksploitasi mineral juga menjadi salah satu penyebab penurunan kualitas tanah.

3. Degradasi Tanah

Selain itu, pencemaran pada tanah bukan hanya terjadi pada kapasitas tanah dibagian permukaan saja, tetapi kualitas tanah dalam kemampuan membentuk kehidupan lain di tanah, seperti tanaman atau disebut dengan degradasi tanah.

Degradasi tanah akan terjadi akibat pencemaran kimia karena terkontaminasi oleh aktivitas penambangan, pembukaan vegetasi, dan erosi tanah lapisan atas. Hal ini terjadi karena aktivitas manusia yang memasukan zat, bahan, dan benda kimia yang secara langsung merusak tanah.

Akibatnya tanah kehilangan kualitas mineral dan komposisi nutrisi. Penyebab utama dari degradasi tanah adalah pembuangan sampah di tanah, kegiatan industri, pertanian yang berlebihan, pertambangan, dan hujan asam.

4. Kebisingan

Kebisingan menjadi bagian dari bentuk pencemaran lingkungan. Pengertian dari kebisingan itu sendiri adalah suara yang menimbulkan ketidaknyamanan yang mengerikan di telinga manusia. Kebisingan terjadi akibat dari aktivitas sehari-hari seperti transportasi, industri manufaktur, dan teknologi.

Polusi Suara memang tidak terakumulasi kepada lingkungan, tetapi berdampak pada kenyamanan manusia. Ketika gelombang suara yang kuat mencapai telinga manusia, itu dapat mempengaruhi otot tubuh manusia. Meskipun tidak berdampak pada angka kematian, tetapi hanya ketidaknyamanan.

Kebisingan tidak hanya menganggu manusia, tetapi juga menganggu hewan, baik di darat dan air dengan pengaruh yang sama dengan manusia, bagi hewan kebisingan dapat menyebabkan kematian.

5. Air

Bentuk Pencemaran Air

Source: Newcivilengineer.com

Pencemaran air adalah tercemarnya badan air termasuk pada sungai, laut, danau, dan air tanah. Pencemaran pada air terjadi akibat masuknya bahan berbahaya seperti bahan kimia, limbah, dan zat terkontaminasi secara langsung atau tidak langsung ke air. Ketika adanya perubahan sifat kimia, fisik, dan biologi yang memenuhi syarat sebagai pencemaran air.

Kontribusi utama dari pencemaran lingkungan adalah aktivitas manusia yang memasukan zat mencemari air dengan bahan kimia berbahaya, dan beracun.

Penyebab pencemaran air terjadi akibat dari kegiatan industri, tumpahan minyak, air limbah, membuang sampah ke air, kebocoran, pestisida, Tempat Pembuangan Akhir (TPA), Kotoran hewan. Air dianggap sebagai lingkungan paling tercemar kedua setelah udara.

6. Panas atau Termal

Pencemaran panas atau termal menjadi salah satu polusi yang mengancam kehidupan manusia dan kehidupan lingkungan. Pengertian dari polusi termal adalah keadaan suhu air dan udara alami berubah membuat komponen didalamnya beralih, dan struktur ekologi bahan organik ikut berubah.

Penyebab dari polusi termal yang paling sering terjadi akibat pelepasan panas dari aktivitas manusia dan industri. Di era saat ini, polusi termal menjadi ancaman besar yang dipengaruhi oleh aktivitas Pembangkit Listrik berbahan bakar batubara dan gas alam serta industri yang menggunakan air sebagai pendingin.

Pada kondisi alami, air hujan dari jalan juga membuang air dalam suhu tinggi ke sumber air yang berdekatan. Ketika air digunakan sebagai pendingin atau terlepas dari reservoir, hal itu juga mengubah suhu alami air.

Polusi ini memang tidak terdampak langsung pada manusia, tetapi dapat merusak ekosistem air yang disebabkan perubahan suhu air.

Baca Juga: Emisi Debu Jatuh di Jakarta Semakin Mengkhawatirkan, Salah Siapa?

7. Industri

Pencemaran industri adalah pencemaran yang terjadi akibat kegiatan industri yang membuang limbah dan polutan ke alam. Polutan dan limbah pada industri meliputi emisi udara, endapan air sisa produksi ke sumber air, TPA, dan injeksi bahan berbahaya beracun ke tanah.  Pencemaran dari industri menyebabkan rusaknya tanaman, membunuh hewan, ketidakseimbangan ekosistem, dan menurunkan kualitas hidup.

Industri yang berkontribusi dalam pencemaran lingkungan adalah pembangkit listrik, pabrik baja, pabrik pengolahan limbah, pabrik pemanas, dan peleburan kaca. Industri tersebut melepaskan asap, limbah, sisa produksi, produk berbahaya beracun, dan produk konsumen kimia yang berakhir di lingkungan dan menyebabkan pencemaran.

8. Cahaya

Bentuk-bentuk pencemaran selanjutnya adalah cahaya yang dihasilkan dari aktivitas manusia. Hal ini disebabkan oleh penggunaan cahaya buatan seperti lampu terlalu lama dan berlebihan yang membuat cerahnya langit pada malam hari.

Hal ini menganggu aktivitas dan siklus alam satwa liar dan mempengaruhi kesehjahteraan manusia. Seluruh lampu yang digunakan pada tempat yang tidak semestinya menyebabkan gangguan.

Baca Juga: Perlukah Uji Laboratorium Lingkungan Dilakukan?

Penutup

Setiap aktivitas industri memang berdampak terhadap lingkungan. Tetapi Anda bisa menimalisir dampak tersebut dengan melakukan uji, Analisa, dan monitoring pencemaran yang terjadi disekitar lokasi kerja.

Bagaimana langkah melakukan uji, Analisa, dan monitoring pencemaran? Anda bisa menggandeng Laboratorium Lingkungan PT Advanced Analytics Asia (A3) Laboratories sebagai Laboratorium Lingkungan yang sudah memiliki sertifikat akreditasi untuk melakukan pengujian parameter kualitas lingkungan dan pengambilan contoh uji.

Hubungi tim Sales kami untuk mendapatkan penawaran khusus untuk melakukan uji, Analisa, dan monitoring pencemaran lingkungan di sekitar industri Anda.

 

Penanganan Limbah Industri secara efektif

Penanganan Limbah Industri untuk Mengurangi Pencemaran

Limbah industri dapat merusak lingkungan. Mulai sekarang, Perusahaan perlu mengetahui langkah-langkah untuk pengelolaan limbah industri dalam mencegah pencemaran lingkungan. Setiap perusahaan harus bertanggung jawab atas limbah yang dihasilkan. Penanganan limbah industri yang salah akan menyebabkan pencemaran lingkungan.

Ketika limbah hasil manufaktur dan industri tidak dikelola secara tepat, tentu akan mencemari udara, air, dan tanah. Apabila limbah hanya dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS), pada akhirnya bisa memunculkan gas metana. Jika gas metana meningkat, akan menjadi efek rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.

Bagaimana Penanganan Limbah Industri

Pengelolaan limbah industri merupakan proses yang meliputi pemilahan, pengomposan, penimbunan, dan daur ulang. Sebelum limbah dibuang, tentu langkah-langkah diatas perlu dilakukan. Tetapi untuk melakukannya, industri perlu mengetahui karakteristik dari limbah yang akan dibuang ke lingkungan. 

Setiap limbah yang dihasilkan oleh industri memiliki karakter yang berbeda berdasarkan jenis, tingkat produksinya, dan bagaimana penanggulangannya. 

Kenapa Limbah Industri Menjadi Masalah?

Kehadiran industri memang menghadirkan berbagai jenis produk yang membuat manusia merasa mudah dan nyaman. Tetapi semua aktivitas tersebut meninggalkan masalah yang cukup kompleks, salah satunya mengenai pencemaran lingkungan yang berasal dari limbah.

Hal ini dikarenakan, limbah industri menyebabkan pencemaran pada air, udara, dan tanah jika tidak ditanggulangi dengan tepat dan efektif. Sehingga menjadi pemicu masalah  Kesehatan manusia dan lingkungan.

Meskipun di Indonesia kebijakan dan regulasi mengenai pengelolaan limbah sudah ada, tetapi masih banyak pelaku industri yang melanggar. Dikarenakan memang kontrol dan pengawasan yang tidak begitu ketat dari regulator. 

Baca Juga: Pentingnya Rutin Melakukan Pengolahan Air Limbah 6 Bulan Sekali

Selain itu, perusahaan tidak memiliki akses informasi yang baik mengenai penanggulangan limbah industri dan tidak mengetahui dampak yang ditimbulkan secara sistemik dari pembuangan limbah industri yang tidak tepat.

Jika Anda butuh diskusi mengenai pengelolaan limbah yang tepat, Anda bisa menghubungi PT Advanced Analytics Asia (A3) Laboratories sebagai konsultan Analisa Limbah di lokasi industri Anda.

Daftar Regulasi Pemerintah Tentang Pengelolaan Limbah Industri dan Pencemaran Lingkungan

Dalam mencegah dampak pencemaran lingkungan, Pemerintah sudah menggunakan Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Kementerian, hingga Perda.. Ada cukup banyak kebijakan yang digunakan untuk menjaga lingkungan hidup, keanekaragaman hayati, dan kesejahteraan manusia maupun makhluk hidup lainnya. 

Undang-Undang

  • Undang-Undang No 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup 

Amdal / Izin Lingkungan

  • PP No 27 Tahun 1999 Tentang Analisa Dampak Lingkungan
  • PP No 24 Tahun 2018 Tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi secara Elektronik
  • Keputusan Menteri LH No 45 Tahun 2005 Tentang Pedoman Penyusunan Pelaksanaan RKL-RPL
  • Peraturan Menteri LH No 08 Tahun 2006 Tentang Penyusunan AMDAL
  • Peraturan Menteri LH No 13 Tahun 2010 Tentang UKL-UPL dan SPPL
  • Peraturan Menteri LH No 5 Tahun 2012 Tentang Jenis Usaha dan atau Kegiatan yang Wajib AMDAL
  • Peraturan Menteri LH No 16 Tahun 2012 Tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup
  • Peraturan Menteri LH No 17 Tahun 2012 Tentang Pedoman Keterlibatan Masyarakat dalam Proses Analisis Dampak Lingkungan Hidup dan Izin Lingkungan

Pengendalian Pencemaran Udara

  • Kepka Bapedal No 205 Tahun 1996 Tentang Pedoman Teknis Pengendalian Pencemaran Udara Sumber Tidak Bergerak
  • Peraturan MenLH No 12 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Pengendalian Pencemaran Udara Daerah

Pengendalian Pencemaran Air

  • Permenkes No 416/Men.Kes/PER/IX/1990 Tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air

Pengendalian Kerusakan Lingkungan Hidup

  • Peraturan Pemerintah No 150 Tahun 2000 Tentang Pengendalian Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa
  • Peraturan Pemerintah No 04 Tahun 2001 Tentang Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang Berkaitan dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan

Limbah B3

  • Peraturan Pemerintah No 18 Tahun 1999  Tentang Pengelolaan Limbah Berbahaya dan Beracun
  • Peraturan Pemerintah No 85 Tahun 1999 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No 18 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Limbah Berbahaya dan Beracun
  • Peraturan Pemerintah No 74 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya Beracun
  • Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI NO P.95/MENLHK/SETJEN/KUM.1/11/2018 Tentang Perizinan Pengelolaan Limbah B3 Terintegrasi Dengan Izin Lingkungan Melalui Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik

Penegakan Hukum Lingkungan

  • Peraturan Pemerintah No 54 Tahun 2000 Tentang Lembaga Penyedia Jasa Pelayanan Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup di Luar Pengadilan

Baku Mutu

  • KepMen LH No 48 Tahun  1996 Tentang Baku Mutu Kebisingan
  • KepMen LH No 50 Tahun 1996 Tentang Baku Mutu Kebauan
  • KepMen LH No 13 Tahun 1995 Tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak
  • KepMen LH No 49 Tahun 1996 Tentang Baku Tingkat Getaran

Bagaimana Mencegah Pencemaran Limbah?

Mencegah pencemaran limbah adalah kegiatan penggunaan proses, praktik, bahan atau energi yang meminimalkan dalam pembentukan polutan atau limbah untuk mengurangi dampak lingkungan terhadap pencemaran, Kesehatan manusia, dan ekosistem di sekitarnya. 

Hal ini juga berdasarkan pada kebijakan yang terdapat didalam UU No 5 Tahun 1984 Tentang Perindustrian. Pada pasal 21 disebutkan bahwa “Perusahaan industri wajib melaksanakan upaya keseimbangan dan kelestarian sumber daya alam serta pencegahan terjadinya kerusakan dan pencemaran terhadap lingkungan hidup akibat kegiatan industri yang dilakukannya.”

Tentu dengan dasar hukum tersebut, Perusahaan dan industri wajib menjaga kegiatan industri yang berdampak terhadap pencemaran lingkungan dengan melakukan penanganan maupun pencegahan pencemaran lingkungan dengan tepat. 

Langkah-langkah yang bisa dilakukan oleh Perusahaan adalah dengan melakukan pengurangan sumber limbah dan daur ulang serta pengolahan limbah secara bijak, sehingga pembuangan limbah ke lingkungan dapat dilakukan dengan cara yang aman dan tepat tanpa menyebabkan pencemaran lingkungan.

Pengolahan Limbah untuk Pencegahan Pencemaran Lingkungan

Penanganan Limbah Industri sebelum dibuang ke lingkungan

Source: sennebogen-na.com

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan dalam mengelola Limbah industri, sehingga bisa dibuang secara aman ke lingkungan, yaitu:

Mengurangi Sumber Limbah

Salah satu langkah yang bisa dilakukan oleh Perusahaan dalam mencegah pencemaran limbah adalah dengan mengurangi sumber limbah yang dihasilkan dari proses produksi atau manufaktur. Telah banyak perusahaan yang melakukan strategi pengurangan limbah dari aktivitas mereka, beberapa langkah yang mereka lakukan menggunakan metode:

Modifikasi Teknologi

Salah satu langkah yang cukup efektif dalam pengurangan jumlah sumber limbah adalah dengan pemanfaatan teknologi. 

Fasilitas Terorganisir

Cara lain yang bisa dilakukan untuk pengurangan limbah adalah dengan cara membuat fasilitas terorganisir yang mampu menampung limbah dan mengolah limbah menjadi lebih aman sebelum dibuang ke lingkungan. 

Re-formulasi atau Redesain

Anda bisa memformulasikan atau meredesain ulang dalam proses produksi, sehingga limbah buangan yang dihasilkan lebih sedikit. Tetapi Anda juga perlu memperhatikan bahwa langkah ini dilakukan dengan bijak dan tanpa mempengaruhi produksi limbah di tahap lain.

Daur Ulang

Langkah selanjutnya yang bisa dilakukan oleh industri dalam menangani limbah adalah melakukan daur ulang limbah-limbah yang tidak terpakai. Mungkin hanya beberapa industri yang dapat mendaur limbah dari proses industri mereka. Tetapi langkah ini bisa dilakukan untuk mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan industri. 

Baca Juga: Hargai Lingkungan Dengan Menerapkan 10 Langkah Mudah Ini

Pengelolaan Limbah

Mengelola Limbah adalah praktik yang sering dilakukan industri agar limbah yang dibuang memiliki perubahan karakter, seperti limbah berbahaya menjadi limbah yang tidak berbahaya, setelah diolah dengan langkah-langkah yang umum dilakukan, seperti:

Secara Fisik

Penanganan limbah industri bisa dilakukan dengan mengelola perubahan secara fisik, tetapi cara ini tidak merubah sikap kimia. Karena limbah di proses untuk merubah ukuran, bentuk atau keadaannya saja. Dengan cara :

  • Penyerapan karbon
  • Penyulingan (Distilasi)
  • Penyaringan (filtrasi)
  • Penguapan (Volatisasi)
  • Penggilingan (Grinding)
  • Pemadatan (Campacting)

Secara Kimia

Proses pengolahan limbah secara kimia dilakukan dengan mengubah komposisi limbah atau merubah karakter limbah menggunakan bahan kimia. Sehingga akan muncul reaksi yang terjadi pada limbah tersebut. Penambahan bahan kimia tersebut untuk menghilangkan partikel, logam, dan zat organik beracun yang ada pada limbah.

Adapun metode yang digunakan :

  • Penetralan
  • Oksidasi dan Reduksi
  • Pengendapan
  • Pencucian asam
  • Menukar Ion
  • Insinasi
  • Desorpsi Thermal

Secara Biologi

Pengolahan limbah secara biologi adalah proses pengolahan limbah dengan menambahkan organisme lain untuk menguraikan komponen organik yang terdapat pada limbah tersebut. Organisme yang ditambahkan akan mengurai limbah tersebut. Metode yang digunakan adalah:

  • Organisme Aerob
  • Organisme Anaerob

Bagaimana Penanganan Limbah Industri Terbaik?

Ketika Anda sudah melakukan metode diatas, Anda masih perlu pengecekan Baku Mutu atas buangan limbah yang dilakukan. Proses pemeriksaan Baku Mutu perlu menggandeng pihak eksternal, yaitu Laboratorium Lingkungan terakreditasi. 

Baca Juga: Laboratorium Lingkungan: Peran, Fungsi, dan Memilihnya

Dengan Laboratorium Lingkungan, Anda juga bisa berkonsultasi dalam penanganan Limbah industri dengan lebih baik dan aman sebelum dilepas ke lingkungan. Anda juga perlu melakukan pengujian, Analisa, dan monitoring limbah sesuai dengan parameter-parameter yang sudah diatur dalam regulasi Pemerintah. Sehingga Penanggulangan limbah industri dapat dimaksimalkan tanpa memberikan dampak kepada pencemaran lingkungan.

Temukan Solusi Lengkap masalah Limbah dan buangan emisi industri di PT Advanced Analytics Asia (A3) Laboratories. Hubungi Tim laboratorium kami untuk informasi pengujian dan Analisa.

 

Cara Pengelolaan Limbah Industri Tekstil

Langkah-Langkah Pengelolaan Limbah Industri Tekstil

Industri tekstil adalah industri yang cukup berkembang pesat di Indonesia. Jenis industri ini hampir tersebar di seluruh Indonesia. Dibalik pertumbuhan yang signifikan, industri tekstil sering memberikan jejak pencemaran dari limbah produksi industri tekstil yang berdampak pada lingkungan. Bagaimana pengelolaan limbah industri tekstil yang tepat? Mari kita ulas!

Industri tekstil mungkin menjadi salah satu industri tertua yang ada di dunia. Kita sudah mengenai industri tekstil sejak abad ke 2 Sebelum Masehi. Jalur ini merupakan jalur utama yang digunakan oleh para pedagang dari Asia, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. Disebut Jalur Sutra karena banyak pedagang tekstil yang menggunakan jalur ini untuk berdagang Kain Sutera.

Dapat dikatakan, Industri tekstil menjadi salah satu industri yang membantu perkembangan pembangunan dan perdagangan dunia. Namun, saat ini industri tekstil masih memberikan jejak limbah yang perlu ditangani lebih baik, untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan yang lebih parah. 

Pengertian Limbah Industri Tekstil

Limbah Industri tekstil merupakan limbah yang dihasilkan dalam proses produksi bahan-bahan tekstil. Terutama dari proses pengkanjian, penghilangan kanji, pengelantangan, pemasakan, merserisasi, pewarnaan, pencetakan, dan proses penyempurnaan bahan. 

Proses penyempurnaan kapas pada industri tekstil, menghasilkan limbah yang lebih banyak dan lebih kuat dibandingkan dengan proses penyempurnaan bahan sintetis.

Baca Juga: Mengenal Karakteristik Limbah Cair, Nomor 3 Paling Sering Ditemui!

Sumber Limbah

Pada Industri tekstil, sumber limbah dihasilkan dari proses pewarnaan. Hasil pewarnaan tersebut, biasanya dibuang begitu saja ke aliran air tanpa dikelola dengan baik terlebih dahulu. Menurut Parlemen Eropa, Industri tekstil bertanggung jawab atas 20% polusi air bersih dunia dari proses pewarnaan dan finishing.

Pencucian produk dengan cara sintetis diperkirakan menyumbang 0,5 juta ton serat mikro ke laut setiap tahun dan pencucian pakaian sintetis menyumbang 35% microplastic primer yang dilepaskan ke lingkungan. Satu pakaian dengan bahan polyester dapat melepaskan 700 ribu microplastic yang dapat berakhir di rantai makanan.

Jika limbah tekstil dibuang begitu saja, tentu akan berpotensi menyebabkan pencemaran air dengan kandungan amoniak yang cukup tinggi. Selain itu, masih ada sumber limbah lain dari aktivitas industri tekstil:

  • Larutan penghilang kanji: Zat ini umumnya langsung dibuang dan mengandung zat kimia penghilang kanji pati, PVA (Polyvinyl Alcohol), CMC (Carboxymethyl Cellulose), enzim, dan asam. Menghilangkan kanji, umumnya memberikan BOD (Biochemical oxygen demand) lebih banyak dibanding proses lainnya.
  • Pemasakan dan Maserisasi menjadi bagian pemucatan semua kain akan menjadi limbah cair yang menghasilkan basa, asam, COD (Chemical oxygen demand), BOD, padatan tersuspensi, dan zat kimia lainnya.
  • Pewarnaan dan pembilasan menghasilkan limbah cair yang berwarna dengan COD tinggi dan bahan lain dari zat warna seperti fenol dan logam.

Jenis Limbah Industri Tekstil

Limbah Kain Perca

Contoh Limbah padat Industri Tekstil Source: Afrik21.africa

Cair:

  1. Zat Warna
  2. Pigmen
  3. Pelarut organik
  4. Hidrokarbon terhalogenasi 
  5. Logam berat
  6. Amoniak
  7. Sulfida
  8. Ph air yang tinggi

Padat :

  1. Kain Perca
  2. Sisa benang
  3. Sisa Resleting
  4. Bahan tambahan

Baku Mutu Limbah Cair Industri

PARAMETER

SATUAN KADAR MAKSIMUM
Biochemical oxygen demand (BOD)

mg/L

60
Chemical oxygen demand (COD)

mg/L

150
Total suspended solid (TSS)

mg/L

50
pH 6,0-9,0
Fenol Total

mg/L

0,5
Krom Total

mg/L

1,0
Amonia Total

mg/L

8,0
Sulfida

mg/L

0,3
Minyak dan Lemak

mg/L

3,0

Sumber : KepMen LH No 51/MENLH/10/1995

Pengolahan Limbah Tekstil

Pembuangan limbah tekstil yang dilakukan di atas batas atas baku mutu ke lingkungan tentu akan berdampak pada pencemaran lingkungan tersebut. 

Pengolahan Dengan Cara Kimia

Pengolahan limbah tekstil didasarkan pada penggunaan bahan kimia dalam proses pengolahan limbah. Bahan kimia digunakan sebagai pengikat koagulan serta floakulan yang berfungsi menjadi pengikat TSS (Total suspended solid) untuk membentuk lumpur/sludge dengan karakteristik menggumpal dan mengendap. Cara tersebut dilakukan untuk menghilangkan partikel logam-logam berat, dan zat organik beracun.

Khusus pada limbah cair dari industri tekstil yang memiliki kadar air >9 maka Ph perlu dinetralisir terlebih dahulu agar nilai Ph air mencapai angka <9. Umumnya jenis bahan kimia yang digunakan adalah Alumunium Sulphate dan Poly Alumunium Cloride.

Lumpur yang terbentuk dari proses kimia akan mengendap di dasar sedimentasi atau clarifier. Lumpur yang terbentuk akan dibuang dengan cara sistematis. Sedangkan air yang sudah jernih akan di buang ke sungai.

Baca Juga: Limbah Industri dan Cara Pengelolaan Limbah Industri

Pengolahan Cara Fisika

Proses fisika adalah pengolahan limbah dengan proses penyaringan dan adsorpsi. Penyaringan dilakukan untuk memisahkan antara bahan padat dan cair melalui alat penyaring. Sedangkan adsorpsi dilakukan dengan penambahan adsorben seperti zeolit, karbon aktif, dan serbuk gergaji. Proses adsorpsi dipengaruhi oleh ukuran Ph, partikel, dan lama waktu kontak antara adsorben dan zat limbah pencemar.

Pengolahan Limbah dengan Biologi

Pengelolaan limbah industri tekstil dengan Teknik biologi dilakukan dengan menggunakan bakteri atau jamur. Cara ini dilakukan untuk menghilangkan zat warna dari limbah cair yang dihasilkan. 

Manfaat Pengelolaan Limbah Tekstil dengan Tepat

Bagi industri tekstil pengelolaan limbah yang tepat dapat mendapatkan mengurangi pengeluaran, meningkatkan profitabilitas, dan membangun reputasi bisnis, seperti:

  • Mengurangi biaya pembelian bahan pengelola limbah.
  • Meminimalisir biaya pengolahan dan pembuangan limbah.
  • Meningkatkan kualitas air limbah
  • Meningkatkan citra publik bahwa perusahaan bertanggung jawab terhadap lingkungan dan menyediakan tempat kerja yang aman.

Lakukan Uji dan Monitoring Limbah Secara Rutin

Jika bisnis telah mengelola limbah dengan tepat sesuai dengan regulasi yang ada, tentu perlu melakukan Uji dan Monitoring secara rutin. Uji dan monitoring ini bisa dilakukan dengan menggandeng pihak eksternal untuk membantu pengawasan dan pengendalian limbah yang dihasilkan oleh industri tekstil terhadap lingkungan. Sehingga dapat mengurangi dampak limbah terhadap lingkungan secara komprehensif. 

Dapatkan layanan uji dan monitoring Limbah dengan PT Advanced Analytics Asia (A3) Laboratories. Hubungi tim Sales kami untuk berdiskusi lebih lanjut mengenai monitoring dan Analisa limbah tekstil perusahaan Anda. 

Limbah Industri dan Cara Pengelolaan

Limbah Industri dan Cara Pengelolaan Limbah Industri

Permasalahan Limbah Industri di Indonesia memang cukup kompleks. Masih banyak industri abai terkait penanganan limbah yang dihasilkan dari proses industri yang mereka jalankan. Limbah industri dapat dikatakan sebagai sampah yang dihasilkan dari kegiatan industri. Pencemaran Limbah Industri masih merajalela dan cara pengelolaan limbah industri masih dilakukan tidak tepat, sering ditemui pencemaran di Kawasan industri di Indonesia. Jika itu dibiarkan, akan sangat berbahaya bagi kondisi lingkungan sekitar Industri.

Jumlah limbah industri tentu akan semakin bertambah seiring dengan pertumbuhan Kawasan-kawasan industri di Indonesia. Permasalahan limbah perlu ditangani secara tepat, agar tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan yang bisa mengganggu kehidupan makhluk hidup. 

Limbah industri memerlukan pengelolaan dan pembuangan secara hati-hati, karena akan berdampak terhadap lingkungan dan Kesehatan masyarakat.

Meskipun sudah ada kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah mengenai limbah secara komprehensif, tetapi masih kurang dari sisi pengawasan di lapangan. Sehingga masih ada industri “nakal” yang tidak mengelola limbah sesuai dengan kebijakan yang ada.

Pengertian Limbah Industri

Limbah industri merupakan sampah industri yang dihasilkan dari proses manufaktur atau industri. Limbah ini memiliki berbagai jenis, tergantung dari produk industri yang dihasilkan. Setiap limbah yang dihasilkan oleh industri memiliki senyawa, partikel, bahan berbahaya dan beracun yang dapat berdampak pada lingkungan, manusia, serta makhluk hidup lainnya. 

Jenis Limbah Industri

Limbah industri memiliki beberapa jenis, jenis limbah ini terbagi menjadi 4 kelompok, yaitu:

Limbah Cair

Jenis limbah satu ini mungkin menjadi jenis limbah yang cukup banyak ditemukan dan sering menjadi limbah yang sering di protes oleh masyarakat yang wilayahnya terdampak. Limbah cair merupakan limbah dengan wujud cair yang dihasilkan dari kegiatan produksi pada manufaktur atau industri. 

Limbah cair ini menjadi jenis limbah yang memiliki masalah paling besar, karena sering menjadi jenis limbah yang memiliki zat yang dapat mempengaruhi ekosistem maupun kesehatan manusia, jika tidak ditangani dengan tepat. Jenis zat tersebut bisa mengendap ke dalam tanah, mempengaruhi tanaman, hewan, dan manusia.

Baca Juga: Mengenal Karakteristik Limbah Cair, Nomor 3 Paling Sering Ditemui!

Limbah Padat

Limbah padat merupakan jenis limbah yang dihasilkan dari proses pengolahan industri maupun tempat-tempat umum. Jenis limbah padat muncul dari sisa-sisa produksi yang tidak terpakai, jenis bubur, dan lumpur dari hasil industri termasuk kelompok limbah padat.

Selain itu, limbah padat hasil produksi terbagi menjadi dua jenis, yaitu organik kayu, karton, atau kertas. Serta anorganik besi, plastik, dan puing dari konstruksi.

Limbah Gas

Jenis limbah gas juga menjadi bagian limbah yang cukup berbahaya bagi lingkungan jika tidak ditangani dengan baik. Limbah gas ini adalah limbah yang bersumber dari pembakaran proses produksi, umumnya limbah ini keluar dari cerobong asap pabrik. 

Dampak dari limbah gas yang tidak ditangani dengan baik akan berpengaruh terhadap pencemaran udara yang berdampak buruk terhadap makhluk hidup di sekitar. Adapun golongan dari limbah gas adalah asap pabrik, kebocoran gas, pembakaran pabrik, kelebihan gas metana, karbon monoksida, dan hidrogen peroksida.

Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

Jenis limbah B3 dihasilkan dari industri yang memiliki kandungan berbahaya dan beracun. Oleh karena itu, jenis limbah dari industri tersebut perlu ditangani khusus. Pembuangan limbah berbahaya dan beracun tidak bisa dilakukan secara sembarangan atau tanpa pengolahan secara khusus.

Jika menganut pada The Environmental Protection Agency (EPA) jenis limbah B3 terbagi menjadi 4 :

  • Ignitability (Mudah Terbakar) : Kemungkinan material mudah terbakar.
  • Corrosivity (Korosi) : seberapa besar material menimbulkan korosi atau karat pada material lain.
  • Reactivity (Reaktif): Kemungkinan bahan tersebut meledak.
  • Toxicity (Toksis) : Seberapa besar kemungkinan bahan merusak kehidupan.

Baca Juga: Kenapa Air Limbah Domestik Perlu Diuji?

Dampak Limbah Industri

Limbah industri tidak bisa dikelola dengan sembarangan. Perlu penanganan khusus agar tidak berdampak pada lingkungan atau kehidupan di sekitar. Untuk mengetahui kesiapan kadar limbah tersebut dibuang, tentu memerlukan pengukuran lebih lanjut. 

Pengukuran ini harus dilakukan dengan pihak eksternal, karena industri tidak diperkenankan untuk mengukur sendiri. Salah satunya dengan menggunakan layanan uji dari Laboratorium Lingkungan

Adapun beberapa dampak limbah industri menyebabkan pencemaran lingkungan adalah: 

Dampak Terhadap Air

Membuang limbah secara sembarangan tanpa melakukan uji analisis maupun monitoring akan berdampak pada ekosistem air tersebut serta dapat berdampak pada Kesehatan manusia, jika air yang sudah tercemar tersebut dikonsumsi. Pembuangan limbah secara sembarangan juga menjadi bagian dari pencemaran air, baik itu di sungai maupun di laut. 

Dampak Terhadap Udara

Pencemaran udara yang terjadi saat ini pun bukan hanya disebabkan oleh asap kendaraan saja, tetapi juga berasal dari asap cerobong pabrik. Asap yang keluar memiliki senyawa atau zat yang berbahaya terhadap udara sekitar. 

Apabila asap yang keluar melebihi Baku Mutu yang sudah ditentukan oleh kebijakan Pemerintah, tentu ini akan berbahaya bagi kondisi lingkungan sekitar. Bahkan bagi manusia, bisa menyebabkan masalah pernafasan, asma, penyakit paru, kanker, serta penyakit jantung.

Dampak Terhadap Tanah

Salah satu elemen lingkungan selain air udara yang sering terdampak dari aktivitas industri adalah tanah. Limbah industri yang dibuang atau di kubur di tanah akan merusak kesuburan tanah tersebut. Sehingga akan mengganggu ekosistem tanah. 

Jika tanah tersebut ditanami tumbuhan yang dapat dikonsumsi, maka polusi pencemaran tersebut akan melekat molekul-molekul pada tanaman yang berbahaya terhadap manusia.

Penanganan atau Pengelolaan Limbah

Limbah industri perlu dikelola dengan baik. Proses penanganan dan pengelolaan limbah industri, perlu dilakukan secara penuh kehati-hatian, tanpa harus terjadinya pencemaran lingkungan yang krusial.

Setiap jenis limbah membutuhkan penanganan secara berbeda-beda. Berikut beberapa langkah yang perlu dilakukan:

Penanganan Limbah Cair

Penanganan pada limbah cair dilakukan dengan cara mengeluarkan polutan yang terdapat di dalam limbah, agar cairan yang ada di dalam limbah dapat dibuang secara bersih tanpa menyebabkan pencemaran lingkungan. Pengelolaan limbah cair dibagi menjadi tiga cara, yaitu: 

Pengelolaan Secara fisika

Penanganan limbah secara fisika dilakukan dengan cara melakukan pemisahan material kotor dalam cairan. Ada beberapa tahapan yang dilakukan, seperti: Pengendapan, flotasi, penyerapan, dan penyaringan. 

Pengelolaan Secara Kimia

Pada pengelolaan limbah secara kimia dilakukan dengan ozonisasi, oksidasi, koagulasi, dan menukar ion. Metode kimia juga menyesuaikan pada jumlah polutan yang perlu dihilangkan dari limbah. 

Secara Biologi

Penanganan limbah secara biologi dilakukan dengan mengurai polutan atau zat menggunakan mikroorganisme.

Baca Juga: Pentingnya Rutin Melakukan Pengolahan Air Limbah 6 Bulan Sekali

Penanganan Limbah Padat

Pada limbah padat, penanganannya dibagi menjadi beberapa cara, menyesuaikan dengan jenis limbah. Apakah limbah organik atau anorganik. 

Limbah Padat Organik

Pengelolaan limbah organik, pada umumnya dilakukan dengan cara menimbun dan diuraikan menggunakan mikroorganisme. Keberadaan mikroorganisme ini dapat membantu menjaga dan meningkatkan kesuburan tanah.

Namun, penimbulan sampah organik tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Anda membutuhkan langkah-langkah yang tepat dan sesuai dengan kebijakan yang berlaku. Anda juga bisa menyerahkan penanganan tersebut kepada tim PT Advanced Analytics Asia (A3) Laboratories. Dapatkan penawaran disini!

Penanganan Insinerasi

Limbah padat juga bisa dikelola dengan cara insinerasi atau pembakaran. Jenis pengelolaan limbah ini pun disebut dengan proses termal. Proses penanganan insinerasi juga dapat dikatakan sebagai langkah yang optimal dalam mengurangi limbah karena mengubah menjadi abu, partikulat, dan gas sisa hasil pembakaran. Tetapi banyak industri yang enggan menggunakan sistem ini karena biaya penanganan yang besar.

Pengelolaan Limbah Gas

Jenis limbah berikutnya yang perlu penanganan khusus adalah Gas. Limbah gas sering dikatakan menjadi limbah yang berbahaya dibandingkan dengan limbah cair dan padat, karena limbah jenis ini tidak dapat dilihat dengan mata. Sehingga penanganan jenis limbah ini perlu dilakukan secara tepat agar tidak mencemari lingkungan.

Desulfurisasi

Proses pengelolaan Limbah dilakukan dengan cara mengurangi jumlah gas yang dibuang dengan desulfurisasi menggunakan filter basah.

Metode Fase Gas

Metode ini digunakan untuk menyamarkan bau tak sedap yang keluar. Bisa juga dilakukan dengan metode fase padat. Dengan metode ini, bau gas akan di serap dengan adsorben padat berupa arang aktif.

Selain kedua cara tersebut, banyak pelaku industri yang melakukan penanganan limbah gas dengan mengurangi jumlah buangan gas dengan bahan bakar ramah lingkungan.

Penanganan Limbah B3

Jenis penanganan limbah selanjutnya adalah penanganan Limbah B3. Penanganan Limbah B3 tentu berbeda dengan penanganan jenis limbah sebelumnya. Sebelum dibuang, langkah-langkah penyimpanan pun harus diperhatikan supaya tidak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan dan makhluk hidup. Bahkan dalam penanganannya, limbah B3 tidak diperbolehkan untuk disatukan dengan jenis limbah lain. Selain itu, limbah B3 dalam penyimpanan perlu izin dari Pemerintah setempat. 

Penanganan Limbah B3 bisa dilakukan dengan tiga cara, yaitu:

Penanganan secara Fisik

Proses pengelolaan limbah jenis ini dilakukan dengan menyisihkan bahan tersuspensi ukuran besar dan mengendap atau mengapung. Umumnya dilakukan pada bahan-bahan seperti minyak dan lemak. Cara ini juga dilakukan dengan menyisihkan bahan tersuspensi atau pemekatan lumpur endapan dengan memberikan aliran udara ke atas. 

Penanganan secara Kimia

Pengelolaan dengan cara kimia dilakukan dengan menghilangkan partikel yang sulit mengendap seperti logam berat, fosfor, dan zat organik beracun. Cara ini dilakukan dengan menggunakan bahan kimia tertentu menyesuaikan pada jenis dan kadar limbah.

Pengelolaan limbah B3 dengan bahan kimia dilakukan dengan stabilisasi/solidifikasi: proses mengubah bentuk fisik senyawa kimia dengan menambah bahan pengikat atau zat pereaksi. Penambahan tersebut dilakukan untuk memperkecil pelarutan, pergerakan, dan penyebaran racun pada limbah sebelum dibuang.

Penanganan Secara Biologi

Cara terakhir dalam pengelolaan limbah B3 adalah dengan cara biologi atau bioremediasi dan fitoremediasi. 

Bioremediasi adalah cara yang dilakukan dengan menggunakan bakteri atau mikroorganisme lain untuk membantu mengurai limbah B3. Fitoremediasi adalah cara penanganan limbah industri dengan menggunakan tumbuhan untuk mengabsorbsi dan mengakumulasi bahan beracun dari tanah. Kedua cara tersebut sering digunakan, karena biaya yang dikeluarkan relatif rendah. Tetapi kekurangannya, cara tersebut perlu waktu lama jika jumlah limbah yang akan diurai cukup banyak.

Baca Juga: Ciri Ciri Air Mengandung Limbah, Nomor 5 Bikin Ngeri

Kesimpulan

Pencemaran limbah industri dan cara penanganannya perlu dilakukan secara tepat. Anda juga membutuhkan Laboratorium Lingkungan untuk mengetahui dampak dari Limbah yang dikeluarkan dari proses Manufaktur dan Industri. Pastikan Anda selalu melakukan uji dan monitoring limbah sesuai dengan kebijakan dan aturan yang berlaku.

Jika Anda membutuhkan Laboratorium Lingkungan, Anda bisa menggunakan Layanan Uji dan Analisa Limbah oleh PT Advanced Analytics Asia (A3) Laboratories. Tim Penguji kami sudah berpengalaman dan bersertifikasi dalam penanganan Limbah Industri. Dapatkan Penawaran sekarang!!

Apa saja Jasa Uji Laboratorium Lingkungan

Deretan Layanan Jasa Uji Laboratorium Lingkungan

Layanan jasa uji Laboratorium Lingkungan merupakan layanan untuk pengukuran, penetapan, monitoring, dan pengujian sampel analisa lingkungan yang terdampak dari aktivitas industri. Aktivitas industri memberikan imbas terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya. Seperti polusi, limbah, dan emisi. Ketiga hal tersebut perlu kontrol dan monitoring secara komprehensif untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan lebih besar. 

Setiap industri perlu melakukan analisa dampak lingkungan akibat dari kegiatan industri yang dilakukan. Bagaimana cara melakukan analisa tersebut? Tentu setiap industri membutuhkan layanan Laboratorium Lingkungan untuk menguji dan menganalisa dampak lingkungan yang terjadi akibat dari kegiatan industri. 

Oleh karena itu, setiap Laboratorium Lingkungan memiliki layanan yang menyesuaikan dengan kebutuhan bagi industri dalam menguji dan menganalisa dampak lingkungan. Ada beberapa jasa yang bisa digunakan oleh setiap industri di Laboratorium Lingkungan untuk melakukan pengujian.

Baca Juga: 3 Peran Penting Laboratorium Lingkungan Bagi Para Pelaku Usaha

Jasa Uji Laboratorium Lingkungan  

Monitoring dan Analisa Udara

Monitoring dan analisa udara adalah pengujian baku mutu udara untuk mengetahui tingkat pencemaran udara di wilayah industri. 

Analisa Pengujian udara terdiri dari pengujian udara ambien, udara lingkungan kerja, pengukuran emisi sumber bergerak, dan pengukuran emisi sumber tidak bergerak serta kebisingan, pencahayaan, getaran, dan iklim kerja.

Setiap analisa tersebut akan mengukur baku mutu udara yang terdampak dari kegiatan industri. Apabila baku mutu udara tidak sesuai dengan kebijakan dan aturan yang berlaku maka perlu ditindaklanjuti agar baku mutu udara sekitar sesuai dengan Nilai Ambang Batas (NAB) yang sudah ditentukan. 

Terdapat juga parameter yang digunakan dalam monitoring dan analisa udara. Parameter akan menjadi ukuran apakah wilayah tersebut sudah memiliki baku mutu udara yang aman atau tidak.

Monitoring dan Analisa Air

Pengujian dan monitoring air meliputi air bersih, air permukaan, air tanah, air RO, air limbah industri, dan Air limbah domestik.  

Pengujian air dilakukan untuk menguji kualitas air di sekitar lokasi industri. Apakah air terdampak dengan mikroorganisme berbahaya dari limbah yang muncul dalam kegiatan industri.  

Banyak industri yang masih abai terhadap kegiatan industri yang berimbas kepada kualitas air di sekitar. Kualitas air yang buruk akan berdampak kepada kesehatan terhadap masyarakat sekitar yang mengkonsumsi air tersebut. 

Oleh karena itu, setiap industri perlu melakukan pengujian dan analisa kadar air yang terdapat di sekitar industri atau sumber air yang menjadi buangan limbah secara rutin. Sehingga bisa terlihat apakah ada pencemaran terhadap air atau tidak. Jika terjadi pencemaran, maka perusahaan perlu melakukan analisa dan monitoring terhadap air. 

Adanya pencemaran atau tidak disesuaikan dengan parameter dan berdasarkan pada senyawa biologi maupun kimia yang terdapat di dalam air tersebut.

Monitoring dan Analisa Emisi

Layanan jasa Laboratorium Lingkungan selanjutnya adalah Monitoring dan Analisa Emisi yang berasal dari berbagai bagian dalam proses industri. Seperti pada Cerobong, genset, incinerator, dan boiler.

Emisi berasal dari kegiatan produksi yang adanya pembakaran menggunakan gas atau uap. Emisi menjadi penyumbang pencemaran udara yang cukup banyak ditemukan di wilayah Industri yang melakukan proses pembakaran. Termasuk juga di dalamnya adalah pembakaran yang bersumber dari Kendaraan Bermotor. 

Untuk mengetahui suatu wilayah memiliki pencemaran emisi yang berbahaya atau tidak, perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut. Pengkajian ini diperlukan melalui Laboratorium Lingkungan yang ada. Laboratorium akan mengecek berdasarkan pada parameter-parameter yang sudah ditentukan. Parameter tersebut akan dinilai berdasarkan pada kebijakan NAB Pemerintah.

Baca Juga: Laboratorium Lingkungan: Peran, Fungsi, dan Memilihnya

Penutup

Sekarang Anda sudah tahu apa saja layanan jasa Laboratorium Lingkungan? Apakah perusahaan Anda membutuhkan layanan Jasa Laboratorium Lingkungan? Jika iya, Anda bisa menggunakan layanan dari A3 Laboratories. 

A3 Laboratories adalah Laboratorium Lingkungan yang sudah terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN) dan telah ditunjuk sebagai Perusahaan Penyedia Jasa K3 (PJK3) oleh Kemenaker. A3 Laboratories sudah terimplementasikan Sistem Manajemen Mutu ISO/IEC 17025;2017, sehingga hasil pengujian sesuai dengan Peraturan dan Kebijakan yang diterbitkan oleh Pemerintah.

Dapatkan Layanan Monitoring dan Analisa Lingkungan Hidup di A3 Laboratories. Dapatkan penawaran menarik dengan menghubungi tim Sales kita melalui Live Chat atau isi daftar penawaran di website Lab.id.

Laboratorium Lingkungan: Peran, Fungsi, dan Memilihnya

Laboratorium Lingkungan: Peran, Fungsi, dan Memilihnya

Laboratorium Lingkungan adalah sebuah lembaga yang berfungsi untuk menganalisa dampak lingkungan yang terjadi di suatu wilayah tertentu akibat dari kegiatan industri. Lembaga Laboratorium Lingkungan perlu memiliki akreditasi yang sudah dikeluarkan oleh Pemerintah untuk menjalankan aktivitasnya. Keberadaan Laboratorium Lingkungan diperlukan menjadi bagian penting membantu Pemerintah dalam monitoring dampak lingkungan dari aktivitas industrialisasi.

Hadirnya Laboratorium Lingkungan di tengah pesatnya Industrialisasi tentu sangat membantu pelaku industri melakukan analisa ataupun penilaian terhadap dampak lingkungan yang terjadi dari kegiatan yang dilakukan.

Pesatnya Industrialisasi di Indonesia berdampak pada berkembangnya sektor ekonomi yang merubah taraf hidup masyarakat. Tak dipungkiri, keberadaan industri di setiap daerah selalu berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi di daerah tersebut, tetapi ada dampak negatif yang terjadi, yaitu masalah lingkungan.

Kebutuhan akan keseimbangan antara ekologi dan lingkungan sangat diperlukan untuk mengukur dampak yang dihasilkan dari proses industri. Sehingga menemukan solusi untuk menjaga keseimbangan antara kegiatan industri dan lingkungan.

Peran Penting Laboratorium Lingkungan

Laboratorium Lingkungan memiliki peran yang cukup penting dalam membantu Industri mengatasi masalah lingkungan. Terutama dalam melakukan monitoring status lingkungan dari abiotik (tanah, air, udara), dan biotik (flora, fauna, dan manusia). 

Proses monitoring yang dilakukan Laboratorium Lingkungan berdasarkan pada sampel yang di uji. Sampel tersebut diambil dari lingkungan lokasi industri beroperasi ataupun sumber pembuangan yang digunakan oleh industri. 

Laboratorium Lingkungan menjadi ujung tombak bagi industri dalam memberikan analisis kuantitatif maupun kualitatif bagi industri. Hasil data yang didapatkan dari Laboratorium sangat berharga untuk menilai dampak dari proses industri. Sehingga pemegang keputusan Perusahaan dapat menentukan kebijakan dan juga pengambilan keputusan yang tepat untuk menyelaraskan antara industri dan lingkungan. 

Baca Juga: 3 Peran Penting Laboratorium Lingkungan Bagi Para Pelaku Usaha

Fungsi Laboratorium Lingkungan

Laboratorium lingkungan memiliki fungsi untuk melakukan monitoring, analisa, dan mengukur parameter terhadap dampak lingkungan yang terjadi akibat dari kegiatan industri. 

Laboratorium lingkungan akan melakukan uji analisis terhadap abiotik dan biotik. Apakah dari kedua unsur tersebut ditemukan senyawa-senyawa yang membahayakan terhadap lingkungan. Dengan melakukan identifikasi sumber polusi, polutan, dan mikroorganisme yang muncul. 

Membantu Menyusun Laporan Lingkungan Hidup

Fungsi lain dari Laboratorium Lingkungan Hidup sebagai lembaga yang akan membantu industri dalam menyusun laporan Lingkungan hidup, seperti laporan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL), Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RKL-RPL), serta Laporan Analisa Dampak Lingkungan (Amdal).

Baca Juga: Monitoring Iklim Kerja Perusahaan

Bagaimana Memilih Laboratorium Lingkungan untuk Industri?

Memilih Laboratorium Lingkungan untuk proses analisa dampak dari industri yang dilakukan, tidak bisa dilakukan sembarangan. Setiap Laboratorium Lingkungan harus memiliki sertifikat akreditasi laboratorium resmi yang dikeluarkan oleh Pemerintah. 

Seperti yang disebutkan oleh Pusat Fasilitasi Standar Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup (Pusfaster KLHK). Sebuah Laboratorium Lingkungan harus memiliki Sertifikat akreditasi laboratorium, dan mempunyai identitas registrasi yang berfungsi mendukung pengelolaan lingkungan hidup. Serta perlu memiliki sertifikasi yang dikeluarkan oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN).

Jika Anda sedang membutuhkan Laboratorium Lingkungan untuk menganalisa Lingkungan di wilayah industri, Anda bisa memilih PT Advanced Analytics Asia Laboratories (A3 Laboratories) yang sudah memiliki peralatan laboratorium yang sesuai dengan baku mutu yang sudah ditetapkan.

Tak tertinggal, A3 Laboratories juga sudah memiliki sertifikat KAN NO LP-128-IDN sebagai laboratorium lingkungan yang mengimplementasikan sistem mutu ISO/IEC 17025 tentang persyaratan umum kompetensi laboratorium pengujian dan kalibrasi.

Informasi lebih lanjut mengenai layanan pengujian analisa dampak lingkungan Anda bisa menghubungi tim Sales kami melalui livechat atau melalui website Lab.id.

debu

4 Penyakit Mengintai Akibat Paparan Debu

Debu atau Dust adalah partikel padat yang berukuran sangat kecil yang dibawa oleh udara. Partikel-partikel kecil ini dibentuk oleh suatu proses disintegrasi atau fraktur seperti penggilingan, penghancuran atau pemukulan terhadap benda padat. Mine Safety and Health Administration (MSHA) mendefinisikan debu sebagai padatan halus yang tersuspensi diudara (airbone) yang tidak mengalami perubahan secara kimia ataupun fisika dari bahan padatan aslinya.

Debu adalah partikel kecil yang berasal dari beberapa sumber yang dibawa oleh udara dan bersifat toksik (racun) yang umumnya timbul karena aktivitas mekanis seperti aktivitas mesin-mesin industri, transportasi, bahkan aktivitas
manusia lainnya. Jenis industri konstruksi, pertambangan dan agrikultur banyak menyumbang debu terhadap lingkungan yang muncul akibat beragam kegiatan seperti grinding hingga crushing.

Jenis Jenis Debu

Menurut Mengkidi, adapun jenis jenis debu berdasarkan tingkat bahaya nya, antara lain:

  • Karsigonik Dust, adalah debu yang dapat merangsang terjadinya sel kanker. Contohnya adalah debu arsenik, debu hasil peluruhan radon, dan asbes.
  • Fibrogenik Dust, adalah debu yang dapat menimbul fibrosis pada sistem pernapasan. Contohnya adalah debu asbes, debu silika, dan batubara.
  • Radioaktif Dust, adalah debu yang memiliki paparan radiasi alfa dan beta. Contohnya bijih-bijih torium
  • Eksplosif Dust, adalah debu yang pada suhu dan kondisi tertentu mudah untuk meledak. Contohnya debu metal, batubara, debu organik.
  • Debu yang memiliki racun terhadap organ atau jaringan tubuh. Contohnya debu mercuri, nikel, timbal, dan lain-lain.
  • Inert Dust, adalah debu yang memiliki kandungan <1% kursa yang mengakibatkan penggangguan dalam bekerja dan juga menimbulkan iritasi pada mata dan kulit. Contohnya adalah debu gypsum, batu kapur, dan kaolin.
  • Inhalable dust atau irrespirable dust, adalah debu yang berukuran >10 µ yang hanya tertahan di hidung.
  • Respirable dust, adalah partikel debu yang berukuran <10 µ dan dapat masuk kerongga hidung hingga ke dalam paru-paru

Bahaya Debu Bagi Pernapasan

Paparan debu dapat ditemukan dimana saja dengan wujud yang tidak terlihat (kasat mata) sehingga sangat sulit untuk dihindari. Sejatinya, tubuh manusia memiliki pertahanan akibat menghirup debu, namun jika tepapar dengan intensitas waktu yang lama maka tubuh akan sulit beradaptasi dan mudah terserang penyakit.

Adapun penyakit yang dapat ditimbulkan diantaranya:

1. Alergi

Umumnya, debu berukuran besar yang terperangkap di hidung bisa langsung menimbulkan refleks batuk dan bersin. Reaksi ini sebenarnya merupakan sistem pertahanan tubuh untuk segera mengeluarkan debu dari saluran napas.

Namun, debu yang terperangkap di dalam hidung juga bisa memicu alergi rinitis (hay fever). Debu akan merangsang timbulnya reaksi berlebihan dari sistem imun terhadap zat asing. Akibatnya, muncul gangguan pernapasan seperti batuk, bersin, hidung tersumbat, dan hidung berair.

Selain itu, alergi rinitis bisa menimbulkan gejala seperti mata gatal, merah, dan berair. Gangguan pada pernapasan bisa terus berlangsung selama pasien alergi terpapar debu. Reaksi alergi bisa berhenti ketika pasien menghindari paparan debu atau mengonsumsi obat alergi.

2. Iritasi saluran napas

Jika Anda menghirup debu dalam jumlah besar dan secara terus-menerus, debu bisa mengiritasi saluran napas atas seperti hidung dan tenggorokan.

Selain menimbulkan batuk atau bersin, bahaya dari iritasi debu di saluran napas juga bisa memicu gejala sakit tenggorokan seperti tenggorokan gatal, perih, dan kering.

Paparan debu dalam jangka panjang nantinya bisa merusak jaringan di sekitar hidung dan tenggorokan. Kondisi ini bisa meningkatkan produksi dahak di saluran napas atas.

Penumpukkan dahak bisa menghalangi jalan udara sehingga menyebabkan sesak napas. Jika telah mengiritasi laring (kotak suara), Anda juga bisa mengalami suara serak.

3. Infeksi saluran pernapasan

Debu berukuran partikel atau yang lebih halus bisa membawa bakteri, virus, atau jamur yang menybabkan infeksi pernapasan

Beberapa jenis pernapasan infeksi tersebut bisa menyebabkan pilek atau flu yang menyerang saluran pernapasan atas.

Namun, partikel debu yang sangat halus juga bisa membawa bakteri, virus, atau jamur tertentu sampai ke saluran pernapasan yang lebih dalam seperti trakea, bronkus, dan paru-paru.

Debu yang lebih halus bahkan bisa melindungi mikroorganisme penyebab infeksi dari sistem penyaringan di saluran napas bawah.

infeksi akan merusak jaringan yang melindungi saluran napas, selanjutnya menyebabkan penumpukan lendir di paru-paru. Kondisi ini bisa mengakibatkan gejala sering sesak napas.

4. Pneumoconiosis

Melansir Canadian Centre for Occupational Health and Safety, aktivitas atau pekerjaan yang memungkinkan pekerjanya menghirup debu secara terus-menerus bisa menyebabkan bahaya seperti pneumoconiosis.

Pneumoconiosis ditandai dengan munculnya jaringan parut atau luka (fibrosis paru) yang mengelilingi jaringan paru-paru yang sehat.

Kerusakan jaringan di paru-paru tersebut disebabkan oleh paparan debu yang mengandung zat kimia berbahaya seperti asbes, berilium, dan kobalt.

Pneumoconiosis bisa menyebabkan penurunan fungsi paru-paru sehingga membuat pasien kesulitan bernapas dan berisiko tinggi mengalami gagal napas.

Beberapa jenis penyakit pneumoconiosis adalah:

  • Silicosis – Silicosis adalah pneumoconiosis yang disebabkan oleh debu kuarsa atau silca. Kondisi paru-paru ditandai dengan nodular fibrosis (parut pada jaringan paru-paru), mengakibatkan sesak napas. Silikosis adalah penyakit yang irreversible atau tidak bisa disembuhkan, bahkan tahapan lanjut bersifat progresive meskipun sudah tidak terpapar lagi.
  • Black Lung (Paru Hitam) – paru hitam adalah bentuk pneumokoniosis yang disebabkan oleh penumpukan debu batubara didalam paru-paru yang membuat jaringan paru-paru menjadi gelap atau hitam. Penyakit ini juga bersifat progresif. Meskipun nama penyakit ini banyak dikenal sebagai penyakit paru hitam, namun nama resminya adalah pneumokoniosis pekerja batubara (coal worker’s pneumoconiosis (CWP)).
  • Asbestosis – Asbestosis adalah suatu bentuk pneumokoniosis yang disebabkan oleh serat asbes. Dan penyakit ini juga bersifat irreversibel.

Langkah Pencegahan

Debu dapat dikontrol dan diminimalisir dengan adanya pemantauan rutin yang dilakukan. Pemantauan bertujuan untuk mengetahui sejauh mana debu tersebar di lingkungan baik industri, perkantoran maupun rumahan. Adapun langkah yang dapat dilakukan dalam mengurasi emisi debu :

Kontrol

Pencegahan terjadinya debu di area kerja juga dapat diterapkan. Meskipun dalam proses produksi yang massal, dimana bahan baku atau produk yang digunakan menghasilkan debu, maka tentu saja sistem pencegahan hampir tidak mungkin dilakukan. Namun jika proses tersebut dirancang secara baik untuk memenimalkan debu, misalnya dengan menggunakan sistem penanganan yang tidak menimbulkan debu, maka emisi debu dapat dikurangi.

Setelah semua usaha pencegahan dilakukan secara maksimal, dan jika masih terdapat debu dari proses tersebut, maka barulah dilakukan pengendalian atau pengontrolan terhadap debu tersebut. Beberapa teknik pengendalian yang dapat dilakukan adalah seperti dust collection systems, sistem wet dust suppression systems, and airborne dust capture through water sprays.

  • Dust Collection Systems – menggunakan prinsip ventilasi untuk menangkap debu dari sumbernya. Debu disedot dari udara dengan menggunakan pompa dan dialirkan kedalam dust collector, kemudian udara bersih dialirkan keluar.
  • Wet Dust Suppression Systems – menggunakan cairan menangkap debu agar tidak berterbangan di udara
  • Airborne Dust Capture Through Water Sprays – menyemprot debu-debu yang timbul pada saat proses dengan menggunakan air atau bahan kimia pengikat, semprotan harus membentuk partikel cairan yang kecil (droplet) sehingga bisa menyebar di udara dan mengikat debu yang berterbangan membentuk agglomerates sehingga turun kebawah.

Monitoring

Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan kebijakan dalam pengendalian dan monitoring udara lingkungan kerja yang disusun dalam Regulasi Permenaker No.5 Tahun 2018 Tentang Kehatan dan Keselamatan Lingkungan Kerja. Didalamnya memuat nilai ambang batas (NAB) untuk beberapa parameter termasuk partikel debu sesuai dengan jenis industri yang dijalankan. Monitoring lingkungan dapat dilakukan oleh laboratorium lingkungan yang telah mengantongi akreditasi oleh lembaga KAN (Komite Akreditasi Nasional) agar prosedur yang dijalankan sesuai dengan metode yang diarahkan. Salah satu laboratorium lingkungan terpercaya dan telah mengantongi sertifikasi dari Lembaga KAN adalah A3 Laboratories yang berada di wilayah Matraman, Jakarta Pusat. Selain pengukuran partikel debu, laboratorium lingkungan A3 Laboratories juga mampu melakukan analisa dan monitoring Udara, Air hingga Emisi.

referensi :

Helo sehat

HSP Academy

iklim kerja perusahaan

Monitoring Iklim Kerja Perusahaan

Iklim kerja perusahaan menilai unsur fisika yakni suhu dalam lingkungan yang sehat dan berpengaruh terhadap produktivitas kerja. Monitoring dan pengelolaan iklim kerja perlu dilakukan secara seksama dan berkelanjutan khususnya bagi industri atau perusahaan dengan potensi tekanan panas. Menurut Permenakertrans No. PER 13/MEN/X/2011 iklim kerja adalah hasil perpaduan antara suhu, kelembapan, kecepatan gerakan udara dan panas radiasi dengan tingkat pengeluaran panas dari tubuh tenaga kerja sebagai akibat pekerjaannnya.

Dr.Atiq Amanah RP, MKKK menjelaskan, pendekatan untuk mengukur iklim kerja dapat melalui berbagai indek, antara lain heat index, Thermal work limit dan WBGT (Wet Blube Globe Temperatur) dan indeks lainya. Dari berbagai pola pengukuran yang sering digunakan oleh industri, yang dijadikan rujukan oleh NIOSH ( National Institute for Occupational Safety and Health) Amerika dan menjadi pedoman dalam peraturan di Indonesia baik Kementerian Tenaga Kerja maupun Kemenkes Republik Indonesia, yakni pendekatan dengan WBGT (Wet Blube Globe Temperatur) atau Indeks Suhu Bola Basah.

Efek Heat Stress dari Iklim Kerja

Salah satu kondisi yang disebabkan oleh iklim kerja yang terlalu tinggi adalah apa yang dinamakan dengan heat stress (tekanan panas). Tekanan panas adalah keseluruhan beban panas yang diterima tubuh yang merupakan kombinasi dari kerja fisik, faktor lingkungan (suhu udara, tekanan uap air, pergerakan udara, perubahan panas radiasi) dan faktor pakaian. Efek tekanan panas akan berdampak pada terjadinya (Putra, 2011), diantaranya :

  1. Dehidrasi, yakni Penguapan yang berlebihan akan mengurangi volume darah dan pada tingkat awal aliran darah akan menurun dan otak akan kekuranga oksigen.
  2. Heat Rash, Yang paling umum adalah prickly heat yang terlihat sebagai papula merah, hal ini terjadi akibat sumbatan kelenjar keringat dan retensi keringat. Gejala bias berupa lecet terus-menerus dan panas disertai gatal yang menyengat.
  3. Heat Fatigue, Gangguan pada kemampuan motorik dalam kondisi panas. Gerakan tubuh menjadi lambat, kurang waspada terhadap tugas. Diketahui bahwa stroke panas dikaitkan dengan cedera beberapa jaringan dan organ sebagai akibat tidak hanya dari efek sitotoksik panas, tetapi juga dari respon inflamasi dan koagulasi.
  4. Heat Cramps, Kekejangan otot yang diikuti penurunan sodium klorida dalam darah sampai di bawah tingkat kritis. Dapat terjadi sendiri atau bersama dengan kelelahan panas, kekejangan timbul secara mendadak.
  5. Heat Exhaustion, Dikarenakan kekurangan cairan tubuh atau elektrolit. Gejala umum dari kelelahan panas termasuk sakit kepala, lemah, pusing, mual, muntah, diare, lekas marah, dan kehilangan koordinasi. Kulit mungkin tampak pucat atau pucat, dengan takikardia atau hipotensi
  6. Heat Sincope, Keadaan kolaps atau kehilangan kesadaran selama penajanan panas dan tanpa kenaikan suhu tubuh atau penghentian keringat
  7. Heat Stroke, Menurut Ramdan dalam Putra (2011) kerusakan serius yang berkaitan dengan kesalahan pada pusat pengatur suhu tubuh. Pada kondisi ini mekanisme pengatur suhu tidak berfungsi lagi disertai hambatan proses penguapan secara tiba-tiba

Pentingnya Monitoring Iklim Kerja Rutin Perusahaan

Iklim kerja menjadi hal yang wajib dilakukan pemantauan karena suhu di Indonesia yang cenderung panas ditambah dengan kegiatan industri yang juga menghasilkan panas. Hal ini juga telah diatur dalam beberapa regulasi berkenaan dengan kesehatan diataranya :

  1. PERMENKES No 70 Tahun 2016 Tentang Standar dan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Industri
  2. PERMENAKER No 5 Tahun 2018 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Lingkungan Kerja

Selain itu, pemantauan iklim kerja perusahaan juga bertujuan untuk mengurangi resiko kesehatan pekerja dan resiko kecelakaan di tempat kerja. PT Advanced Analytics Asia Laboratories (A3 Laboratories) merupakan perusahaan penyedia jasa K3 (PJK3) bersertifikasi, selain itu laboratorium A3 Laboratories telah mengantongi sertifikasi dari lembaga KAN sebagai laboratorium lingkungan. Yuk monitoring iklim kerja di perusahaan Anda bersama A3 Laboratories sekarang.

audit surveillance

KAN ‘Hadiahkan’ 4 Parameter Akreditasi Lewat Audit Surveillance ISO 17025 pada A3 Laboratories

Audit Surveillance – PT Advanced Analytics Asia Laboratories atau biasa dikenal dengan A3 Laboratories merupakan perusahaan yang bergerak di bidang laboratorium lingkungan dan telah mengantongi sertifikasi lembaga Komite Akreditas Nasional (KAN) No. LP-1285-IDN. Selain itu, A3 Laboratories juga telah ditunjuk oleh Kemenaker sebagai Perusahaan Jasa K3. A3 Laboratories juga telah terakreditasi ISO 17025 sejak tahun 2017.

Baca Juga : PT Advanced Analytics Asia Resmi Terdaftar Sebagai PJK3

Pada bulan Juli lalu, A3 Laboratories melaksanakan Audit Surveilance untuk menjamin konsistensi penerapan sistem manajemen mutu. Pelaksanaan audit didampingin oleh 3 orang assesor dari lembaga Komite Akreditasi Nasional (KAN), yaitu :

  1. Ibu Murtiningsih selaku Ketua Asessor dari BBP2HP-KKP Jakarta yang mengases Mikrobiologi dan Manajemen Mutu
  2. Ibu Henggar Hardiani dari Balai Besar Pulp & Kertas mengases Air dan Air Limbah
  3. serta Bapak Bambang Hindratmo dari KLHK Udara Ambient, Emisi, Lingker dan PermenLHK No 23 tahun 2020

Apa Itu Audit Surveillance?

Seperti yang dikutip dari Direktorat Perencanaan dan Organisasi, Audit Surveillance adalah audit (pemantauan) yang wajib dilakukan oleh lembaga sertifikasi independen terhadap instansi yang telah bersertifikat ISO. Tujuan audit tersebut yaitu untuk menentukan apakah organisasi masih berhak menyandang sertifikat ISO atau tidak.

Pada kesempatan kali ini juga dilakukan wawancara oleh asesor KAN terhadap Manager Teknis dan beberapa Penyelia sebagai pelaksana pengujian di laboratorium. Hal-hal terkait teknis laboratorium diaudit oleh Asesor untuk memastikan pemenuhan terhadap persyaratan yang ada pada ISO 17025 : 2017 dan PermenLHK RI no 23 tahun 2020

ISO 17025 merupakan standar persyaratan umum untuk kompetensi sebuah laboratorium pengujian maupun laboratorium kalibrasi dengan menjamin sistem manajemen mutu baik secara administratif maupun secara teknis. PT Advanced Analytics Asia Laboratories telah terakreditasi ISO 17025 sejak tahun 2017.

Dalam pelaksanaan audit ini, Asesor mengidentifikasi kesesuaian dan ketidaksesuaian penerapan sistem mutu di laboratorium, serta menguraikan temuan ketidaksesuaian yang ada dan menetapkan kategori ketidaksesuaian. Kemudian tim internal A3 Laboratories melakukan analisis penyebab akar permasalahan yang dilanjutkan dengan mendiskusikan rencana tindak lanjut perbaikan atau pengendalian pekerjaan pengujian yang tidak sesuai. 

Hasil tindakan perbaikan yang dilakukan oleh tim Internal A3 Laboratories telah memenuhi keberterimaan ISO 17025 : 2017 dan PermenLHK RI no 23 tahun 2020 serta tidak ada parameter yang di drop namun A3 Laboratories mengembangkan 4 ruang lingkup parameter akreditasi, diantaranya :

  • MBAS (Methylen Blue Active Surfactant) pada Air Bersih, Air Permukaan dan Air Limbah
  • NO2 (Nitrogen dioxide) pada Air Bersih, Air Permukaan dan Air Limbah
  • COD (Chemical Oxygen Demand) pada Air Permukaan dan Air Limbah
  • Flourida pada Air Bersih, Air Permukaan dan Air Limbah

Diharapkan dengan dilakukan Audit Surveillance ini, PT Advanced Analytics Asia Laboratories dapat terus berkomitmen terhadap sistem manajemen mutu sehingga pelaksanaan pelayanan Laboratorium Lingkungan PT Advanced Analytics Asia Laboratories keseluruhannya menjadi lebih baik dengan mutu hasil uji yg lebih tepat, sehingga kevaliditasan hasil tidak diragukan lagi.